Monthly Archives: November 2010

Jenuh jadi Aktivis Dakwah

Berkutat dengan rutinitas yang  hampir sama dari hari kehari bisa menimbulkan kelelahan dan kemalasan untuk melakukan aktivitas dakwah.

Pergi pagi pulang petang untuk ngurusin orang lain ternyata bukanlah pekerjaan yang ringan dan mudah. Banyak kita yang akhirnya berfikir ulang dan tak sedikit yang kemudian memutar badan dan membalikkan pandangan dari jlan dakwah ini.

Terlebih lagi ketika aktivitas kita menjadi aktivis menuntut pengorbanan waktu, tenaga dan harta sampai2 mengorbankan waktu2 pribadi dan bahkan terkadang mengorbankan cita-cita semu.

Hati-hati kejenuhan ini penyakit menular, kita yang mulai merasakan bibit2 kejenuhan ini hendaknya tidak bersama mendekat orang-orang yang jenuh lainnya. Karena tradisi hidup jamaah kita yang melekat terkadang terbawa-bawa ketika kita jenuh dan akhirnya kita juga mengajak orang lain untuk jenuh.

Bagaimana supaya tidak jenuh

1. Luruskan kembali orientasi kita menjadi aktifis dakwah. Satu-satunya orientasi yang lurus adalah orientasi kerja semata karena ridho Allah. Jadi kita menjadi aktivis orientasinya adalah ilallah bukan semata2 pengembangan karir keorganisasian atau maaf sekedar pencapaian popularitas. Orientasi itu terlalul dangkal kiranya.

2. Berkumpul lah dengan orang-orang yang senantiasa punya semangat dalam aktivitas dakwah. Dimana hari-harinya adalah dakwah dan setiap tarikan nafasnya adalah dalam rangka zikrullah

3. Perbanyak bekal Ruhiyah karena inilah nadinya pergerakan kita. Kesibukan kita menjadi aktivis hendaknya berkorelasi dengan kesibukan kita berinteraksi dengan Allah. Kalau dulu sewaktu masih belum jadi aktivis Tilawah quran kita setengah juz sehari, sekarang tingkatkan menjadi satu juz. Kalau dulu kita cuma qiyamullail sekali seminggu sekarang tingkatkan jadi 3 kali seminggu. Hendaknya Interaksi Ruhiyah kita semakin diperketat.

4. Lakukan kreasi2 baru dalam menjalani amanah sebagai aktifis dakwah. Jangan biasakan diri melakukan rutinitas2 warisan secara literlet atau konseptual dan tidak menyesuaikan dengan kondisi analisa kekinian.

Banyak Hal lain yang bisa kita lakukan agar kita tak jenuh jadi aktivis, karena kejenuhan adalah awal malapetaka dan kejenuhan adalah indikasi lupanya kita akan janji kita kepada Allah untuk menjaga Dinul Islam ini..

Kalau kita mau lihat orang2 disekitar kita mereka juga punya hasrat pribadi, mereka juga punya targetan akademisi dan mereka juga punya cita2 tapi kenapa mereka masih sempat untuk menyibukkan diri dengan aktivitas organisasi. Karena mereka tahu hidup ini hanya sekali maka berbuatlah yang berarti

Semoga bermanfaat

Iklan

Kita pemain bukan pengamat

Kita adalah orang yang ikut dalam sebuah permainan bukanlah orang yang hanya mengamati dari jauh kemudian berkomentar seolah-olah tahu bahkan lebih tahu dari orang yang sedang bermain

 

Ketika kita menonton sebuah pertandingan sepak bola tak jarang kita “galinggaman”(minang red) melihat para pemain yang kita nilai mainnya buruk, kemana bola kesitu dia pergi, ada peluang menggolkan eh ternyata tak pula masuk alias  tendangan meleset. Tak jarang keluar umpatan dari kita “bodoh” atau ah payah pemainnya. Seolah-olah kita lebih ahli dari pemain yang sdh bertahun2 ikut dalam pertandingan-pertandingan besar itu.

Tapi sedikit berbeda mungkin ketika komentar-komentar tadi lahir dari seorang komentator yang pernah jadi pemain sepak bola. Mereka akan berkomentar lebih intelek, pake analisa dan tidak asal menyalahkan dengan emosi.

Begitupulalah kita dalam aktivitas dakwah ini, mudah lontaran komentar keluar dari mulut kita ketika kita hanya jadi pengamat dan tidak pernah jadi pemain. Cenderung menyalahkan tanpa pernah memposisikan seandainya kita yang mengerjakan satu hal tersebut.

Hakikatnya kita adalah “muharrik”(orang yg senantiasa bergerak) bukan pengamat atau komentator saja.

Dalam perjalanan dakwah ini yang dibutuhkan adalah pemain dakwah bukan pengamat dakwah.

Yang dibutuhkan adalah orang yang senantiasa menghabiskan hari-harinya dalam kerja-kerja dakwah bukan orang yang menghabiskan harinya untuk mengkritisi kebijakan dakwah.

Menjadi komentator atau pengamat itu mudah apalagi kalau kita belum pernah mencoba bermain.wallahualam

Iman kepada Takdir

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al-An’aam: 59)

Begitulah Allah telah sampaikan kepada kita lewat firmannya dan perkataan Allah itu adalah benar dan tidak perlu dilakukan pengujian ulang terhadap kebenarannya. Sekecil apapun yang terjadi dimuka ini hanyalah atas izin Allah semata. Dengan mudah Allah bisa jadikan sesuatu yang tak mungkin menurut prediksi manusia menjadi mungkin dan dengan mudah pula sesuatu yang kita anggap mudah terjadi dibuat Allah menjadi sesuatu yang sangat sulit.

Dialah satu-satunya penentu apa yang terjadi di muka bumi ini, karena itu ketika kita mempunyai sesuatu kemampuan janganlah merasa dengan kemampuan kita itu kita pasti bisa berhasil dan berbuat sesuatu tanpa orang lai9n apalagi merasa bisa tanpa bantuan Allah, atau bakhan sebaliknya ketika kita memiliki keterbatasan dalam satu hal hendaknya kita tidak terkungkung dalam keterbatasan itu dan merasa tidak mungkin kita bisa menjadi sesuatu. Hal itu juga berarti secara tidak sengaja kita sudah mematikan potensi yang Allah titipkan kepada kita.

Yakinlah janji Allah itu benar dan ALLAH TAHU SEKECIL APAPUN yang terjadi pada diri kita. Tugas kita adalah berusaha keras, berdoa sebanyak-banyaknya, lakukan taubat dan pasrahkan semua keputusan hnaya ada pada Allah.

Terkait Iman kita kepada takdir mari simak hadis dibawah ini:

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)

SEMOGA KITA TERGOLONG ORANG BERIMAN

Kenangan bersama AYAH

Dalam sebuah perjalanan menyusuri pantai utara
Berkereta di tengah malam Surabaya – Jakarta
Kuteringat masa indah di masa-masa kecilku
Kenangan bersama ayah di kampung halaman

Sungguh indah
Terlalu manis untuk dilupakan
Sungguh mesra
Meski beriring ketegangan

Suasana pengajian petang seperempat malam pertama
Riuh rendah suara hafalan atau cemeti hukuman
Hening hanya decahan kala epik dipaparkan
Liku-liku perjuangan para pahlawan Islam

Yang gagah perkasa
Di medan perjuangan
Yang tak takut mati
Untuk meraih kemuliaan Islam

Ayah terima kasih nanda haturkan kepadamu
Yang telah mendidik dan membesarkanku bersama ibu
Ayah engkaulah guruku yang terbaik sepanjang usiaku
Yang telah membimbing masa kecilku meniti jalan Tuhanku

Allah s’moga Kau berkenan
Membalas s’gala kebaikannya
Menerimanya, dan meridhoinya
Di hadirat-Mu

‘suara persaudaraan’

Teruslah berdoa

Doa merupakan perwujudan keinginan kita akan sesuatu hal yang kita mohonkan kepada Allah untuk dikabulkan.

Dalam setiap bait doa ada beberapa keinginan yang kita titipkan untuk mendapat persetujuan dari sang khalik Allah SWT.

Setiap hari bahkan mungkin setiap detik antrian doa kita terus bertambah menunggu giliran untuk dikabulkan.

Satu hal yang paling penting kita ingat adalah jangan pernah letih dan jenuh untuk terus menghaturkan doa karena Allah saja yang mendengarkannya tak pernah bosan.

Ketika saat ini doa kita belum dikabulkan teruslah berdoa jangan pernah berhenti karena bisa jadi Allah sedang menunggu waktu yang tepat untuk doa kita.

Kalaupun ternyata Allah tak jua kabulkan doa kita di dunia yakinlah Allah sedang menyimpan permohonan-permohonan tadi untuk direalisasikan di akhirat.

Allah pasti tau waktu terbaik untuk dikabulkannya doa kita…

Pernah kah kita mendengar kisah hikmah seorang raja yang dzolim dan yang soleh.

Suatu ketika raja yang dzolim jatuh sakit, penyakitnya ini cukup aneh dan mengherankan para tabib, obat sudah dicari kemana-mana setelah berapa lama baru didapatkan ramuan dan sembuhlah sang raja tadi.

Hal yang sama juga menimpa raja berikutnya, raja ini juga mendapat penyakit yang serupa, dan dengan serta merta juga diberikan ramuan yang sama namun apa yang terjadi sang raja tak kunjung sembuh malah penyakitnya tambah parah.

Apa rahasia dibalik doa kesembuhan raja pertama dan apa rahasia dibalik tidak terkabulnya doa raja yang kedua?

Ternyata raja yanag pertama ini seumur hidupnya gemar melakukan kemaksiatan dan menzholimi rakyatnya namun pernah satu waktu beliau berbuat baik dan Allah menginginkan perbuatan baiknya ini dibalaskan segera di dunia sehingga kelak sempurnalah siksa baginya, sementara raja yang kedua tadi adalah raja yang sholeh yang disenangi rakyatnya namun satu kali pernah ia tanpa sengaja melakukan kesalahan dan Allah tidak menginginkan kesalahan ini kelak menghalanginya sewaktu di hari akhir sehingga Allah segerakan balasan atas kejahatannya di dunia sehingga sempurnalah kebaikannya kelak.

Jadi kita tak pernah tau mana yang terbaik buat kita, jangan pernah terpikir Allah kurang menyayangi kita karena doa kita belum terkabul.

Tugas kita hanyalah berusaha, berdoa dan tawakkal.

Allah pasti mengabulkan doa seorang hamba, namun dalam tiga kesempatan berbeda:

1. SEGERA, sesuai waktu yang kita inginkan

2. DITUNDA, Allah menunggu waktu yang tepat

3. DISIMPAN, Untuk tabungan kesenangan di akhirat kelak.

Yakinlah Allah mendengarkan doa setiap hambaNya, maka teruslah berdoa dan teruslah memiliki harapan karena HARAPAN ITU MASIH ADA

Tetaplah bergerak walau harus menyeret langkah

sebagai salah satu sumber kehidupan yang menempati hampir 70 persen dari kebutuhan hidup kita ternyata juga bisa memberikan banyak pelajaran yang tersirat kepada kita tentang sebuah kehidupan.

Ketika teman-teman melihat air yang terus bergerak bagaimana kondisinya?

dengan geraknya itu ia bisa menjernihkan dirinya, dengan geraknya ia mencegah kontaminasi dari sampah dan hal-hal yang tak bermanfaat, dan dengan geraknya ia sampekan banyak manfaat ke berbagai tempat.

Tapi suatu saat ketika air itu memutuskan berhenti bergerak karena beratnya tantangan yang dihadapi dan sulitnya medan atau banyaknya penghalang disekelilingnya maka dengan seketika dia menjadi keruh, berlumpur dan lama-lama tak lagi dapat memberi manfaat kepada sekitarnya,

Begitupulalah ketika geraknya ini terlalu kencang, mungkin ketika dia bergerak kencang ia akan bersih, terhindar dari kontaminasi kotoran tapi sayang gerakannya membahayakan…

Begitupulalah kita sebagai pelaku dakwah hendaknya terus bergerak tanpa kenal lelah, teruslah mengalir mencari tempat yang baik dan teruslah melakukan proses pembersihan diri terutama hati sehingga kita kelak tetep bisa bertahan dalam hidayah Allah yang indah ini.

Teteplah bergerak biar sedikit demi sedikit tapi jangan pernah memutuskan untuk berhenti atau beristirahat dulu karena istirahatnya seorang muslim adalah ketika dia sudah bisa memastikan dia akan hidup nyaman di syurga.

Wallahualam, sekedar pengingat untuk diri sendiri

komitmen muslim sejati “Fathi Yakan”

ini sekedar trigger saja agar kita lebih tertarik membaca, blm isi bukunya ya..

 

”Pengakuan sebagai muslim bukanlah klaim terhadap pewarisan, bukan klaim terhadap suatu identitas, juga bukan klaim terhadap suatu penampilan lahir, melainkan pengakuan untuk menjadi penganut Islam, berkomitmen kepada Islam, dan beradaptasi dengan Islam dalam setiap aspek kehidupan.”

Lama ana terhenti dalam barisan kata-kata yang tertulis di salah satu buku pengarang favorit ana ini.

Bait demi bait coba ana pahami dan semakin terasa bahwa selama ini ternyata ana belum berislam seutuhnya..

Tersadar kita bahwasanya iman bukanlah sebuah warisan bukan juga sesuatu yang dapat diperjualbelikan, melainkan dia adalah suatu  keyakinan mendalam yang senantiasa kita hujamkan dalam hati, kita goreskan lewat tulisan dan kita wujudkan lewat amal perbuatan…begitulah iman…ia ada bukan karena keturunan

Buku ini melibatkan dua hal yang menjadi fokus besar pembahasan yaitu mengenai bagaimana karakteristik seorang muslim itu seharusnya dan bagian kedua mengenai kewajiban kita selaku muslim tadi untuk berjuang dengan sekuat tenaga membela islam dan senantiasa menumbuhkan sikap yang berafiliasi terhadap lembaga-lembaga keislaman