Monthly Archives: Desember 2010

Kemanakah kita akan lari????

Jumat, 3 November 2010 kurang lebih sekitar pukul 10 lewat 15 menit…

Goncangan itu kembali menghampiri warga kota padang, hanya hitungan detik saja goncangan terjadi namun mempengaruhi ratusan bahkan ribuan detik kehidupan umat manusia di kota Padang.

Gempa memang tidak langsung berdampak terhadap korban jiwa tapi kepanikan lah yang menyebabkan banyak yang cedera.

Itulah yang ana rasakan hari ini, saat jaga di salah satu RS, Pasien berdatangan silih berganti dengan darah yang mengucur di badannya dan beberapa pasien terdapat serpihan kaca di tubuh mereka, bukan karena efek langsung dari gempa tapi karena mereka panik dan akhirnya terkena musibah.

Pemandangan lain Banyak sekolah yang memulangkan siswa2nya dan tidak sedikit juga sekolah yang mengevakuasikan anak2 nya sehingga dimana2 dijumpai kemacetan.

Simulasi telah dilakukan dan Alhamdulillah membuat warga kota padang lebih awas dalm mempersiapkan diri menghadapi bencana…

Warga sudah tahu kemana mereka harus mencari tempat perlindungan sementara berdasarkan peta yang telah disosialisasikan PEMKO Padang..

Namun Kemanakah tempat lari kita sebenarnya dan apakah yang harus kita persiapkan sebenarnya (selain ransel tanggap bencana…).

Yang paling penting kita persiapkan adalah bekal kita untuk menghadapi goncangan yang lebih dahsyat. Saat Bumi digoncangkan Allah dengan goncangan yang maha dahsyat kemanakah kita akan lari???

Tidak ada satu sudut pun dibumi ini yang bisa kita jadikan tempat berlindung saat goncangan dahsyat itu datang dan terbayangkah bagi kita seberapa besar kepanikan kita saat itu. Saat itu kita tak lagi peduli dengan orang lain disekitar kita yang kita pikirkan hanyalah bagaimana nasib kita..

Sekali lagi kemana tempat lari kita???

Dan jawabannya tidak ada tempat lari kita, ………

Bersyukur kita senantiasa diberi Allah peringatan agar kita tidak lalai dan senantiasa merasakan bahwa kekuasaan Allah itu nyata..

Bersyukur kita Allah hanya beri kita kejutan2 kecil agar kita tersentak dari kelalaian untuk kemudian menyibukkan diri kembali bersama Allah.

Bersyukur kita masih ada peluang waktu untuk senantiasa berbenah…

Membenahi diri dengan hal yang lebih besar dan mendasar tidak sekedar dengan ransel bencana dan peta evakuasi..

Mari kita bersama mempersiapkan diri menghadapi goncangan dahsyat yang telah pasti Allah akan datangkan, karena sekali lagi saat itu tidak ada tempat untuk bersembunyi dan tidak mungkin untuk menyelamatkan diri..

Wallahualam bishowab…(mencoba mengingatkan diri sendiri)

Apakah memasuki dunia siyasy sebuah kekeliruan???

Akhir-akhir ini banyak aktivis kampus yang melontarkan keluhan yang hampir seragam. Keluhan ini datang dari berbagai lapisan aktivis baik da’awy ataupun siyasy. Mereka mengeluhkan bahwa sekarang terjadi penurunan kualitas kader akibat dampak sistemik dari dakwah siyasy.

“Coba kita lihat dahulu sewaktu dakwah hany ngurusin FSI saja kader-kader terpelihara, akhlaknya baik, hijabnya bagus, tidak ada yang menyimpang”. Ungkapan salah seorang aktivis yang sayang dengan dakwah ini.“kalau begitu sudah saatnya kita kembali ke asholah, kembali kedapur tinggalkan dakwah siyasy”. Begitulah rangkaian kata yang meloncat dengan penuh semangat dari kita sekali lagi yang sayang dengan jamaah ini. benarkah demikian?

Benarkah rutinitas siyasy yang menyebabkan kita kehilangan ciri ikhwani, benar kah dia makhluknya yang menjadikan dakwah ini bergeser dari asholahnya?

Lantas timbul pertanyaan bagi kita apakah tidak keliru kita memutuskan memasuki ranah siyasy?

Tahukah teman2 bahwa kedudukan medan siyasy merupakan bagian yang tak terpisahkan dari islam dan bergerak di medan siyasy adalah bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas dakwah ilallah..

Dakwah ini untuk seluruh alam, dia bukan untuk golongan tertentu saja, dia bukan hanya untuk orang-orang yang sdh mulai mengerti pentingnya islam dalam kehidupannya, tapi untuk semuanya tanpa terkecuali…

Mungkinkah kita melakukan perubahan yang besar ini hanya dengan optimalisasi satu wajihah yaitu FSI? yang notabene orang2 yang masuk disana adalah orang2 yang memang sdh punya hajat mengenal islam lebih dekat, maka bagaimana dengan teman2 kita yang masih mengambang, yang masih terlupa akan hakekat mereka diciptakan di dunia ini?

Sering misi2 besar dakwah siyasy ini kandas ketika ADK melihat personal siyasy yang berperan di lapangan yang dinilai tidak lagi menjaga asholah dakwah.

Apakah karena personal yang melakukan kekeliruan lantas kita menganggap keputusan memasuki ranah siyasy juga sebuah kekeliruan???

Agar kita tidak keliru ada beberapa hal yang harus kita lakukan

1. Tingkatkan imunitas pribadi kita.

Interaksi kita dengan orang2 yang belum mengerti hijab bukan lantas menjadikan kita juga berbuat hal yang sama. Interaksi kita dengan orang yang mungkin masih terlambat sholat jangan sampe menjadikan kita juga ikut2an telat. Dan interaksi kita dengan orang2 yang masih belum santun tutur katanya jangan malah menjadikan kita juga demikian. karena kita adalah kader yang punya imunitas. Kita berinteraksi tapi kita tidak tertulari. Bagaimana caranya, caranya adalah dengan memperkencang interaksi kita dengan Allah. Sehingga parameter2 yang telah Allah tetapkan bisa terus terpelihara. Kalau sebelum menjadi kader siyasy kita cuma tilawah 5 halaman sehari maka sekarang tambah menjadi 10 halaman, kalau sebelum disyasy Qiyamullail kita cuma satu kali perpekan maka sekarang jadikan ia minimal 3 kali perpekan…dan seterusnya untuk amalan yaumi yang lain

2. Pelihara budaya siap di kritik dan mau di kritik

Kita hanyalah manusia yang pasti tak luput dari kesalahan. Sewaktu2 ada kesalahan yang terlihat oleh rekan kita di lembaga lain yang mungkin kritikan dan masukannya akan lebih objektif maka dengarkanlah. Jangan langsung membentengi diri dengan pembenaran2 yang akan menyulitkan masuknya kritikan tadi. Kalau saat ini kita siap dikritik maka yakinlah sahabat kita yang memberikan kritik tadi akan semakin perhatian sama kita dan insyaALLAH semakin banyak yang perhatian terhadap gerak langkah kita maka kita akan menjadi kader yang terpelihara.

3.Pelihara tujuan

Senantiasa berusaha menanamkan dalam diri bahwa aktivitas kita disyasy untuk dakwah, Sehingga dalam aktivitas sehari-hari kita tidak akan terlepas dari rutinitas Da’i. Jangan sampe kita hanya sibuk dengan hal-hal teknis yang mengurus tenaga dan terkadang ukhuwah, tanpa sebuah misi dakwah yang pastinya akan membawa kekeringan pada pergerakan kita. Upgrade terus daya rangkul kita (isti’ab) karena tujuan dasar kita disini adalah dakwah

Wallahualam…semoga bermanfaat

 

Afwan karena tidak bisa bertemu Ukhtina minggu ini….

 

afwan tidak bisa bertemu minggu ini….

 

 

Hari ini sebenarnya menjadi satu  hari yang ane tunggu2 dari tujuh hari yang ada dalam seminggu. Hari dimana akan ana dapatkan banyak kebaikan disana. Hari dimana ana akan bertemu sumber2 pancaran iman yang tulus.

Tapi keinginan itu terpaksa diredam sementara karena akhirnya ana terpaksa mengatakan afwan ukhty ana tidak bisa hadir bertemu ukhtina semua hari ini. Akhirnya sms ini pun melayang ke hp adik yang insyaAllah ana mencintainya karena Allah…

Mungkin terkesan berlebihan ketika kata2 ini terloncat dalam ketikan huruf2 di keybord komputer ana tapi inilah yang terasa setiap kali ana tidak bisa menunaikan amanah menghadiri pertemuan dengan adik2 tercinta.

Karena alasan dinas dan kerjaan yang mengharuskan lembur dan memaksa mereka untuk tetap menjalankan tarbiyahnya meskipun harus mandiri (tarbiyah sendiri tanpa murobbi).

Mudah2an tetap bisa memberikan manfaat walau minggu ini kita hanya bisa ketemu lewat pesan di akun fb atau lewat tulisan di wordpress ini…

tetap semangat, karena Murobbi hanyalah fasilitator terhadap target perubahan ataupun pembentukan karakter sementara pelakunya adalah ukhtyna semua.

Ana uhibbukifillah…

ana berlindung dari segala keterbatasan dan segala pembenaran…