Category Archives: dakwah

berawal dari interaksi formal

Pernahkah kita kerumah seorang ikhwan dengan alasan ingin mengambil bahan untuk acar besok harinya, atau pernahkah mendapatkan sms reminder rapat, temu kader dari seorang ikhwan, atau pernahkah mendapat telpon dari seorang ikhwan yang baru saja selesai rapat dengan kita kemudian kembali mengajak membahas rapat tadi ditelpon, atau pernahkan mendapat sms yang membangunkan kita untuk tahajud oleh seorang ikhwan?

Mudah2an belum pernah dan kalaupun sudah pernah mudah2an kita tidak menikmatinya dan menanti-nantikan di sms atau di telpon ulang.

Era keterbukaan dimana dakwah telah semakin luas, kader dakwah semakin banyak, lahan dakwah terbuka tanpa batas ruang dan waktu, memungkinkan interaksi ikhwan dan akhwat menjadi berbeda dari dahulu. Seringnya kegiatan bersama juga menjadikan pandangan tak lagi terjaga sebaik dahulu…

Lantas apakah kita akan terus bernostalgia dan merindukan kondisi dahulu?

Pastinya tidak. kita harus punya benteng pertahanan yang lebih kuat jika dibandingkan dahulu agar kita tetap punya parameter yg standard tentang hijab.

Apakah era keterbukaan lantas membolehkan kita berinteraksi lepas tanpa batas? berawal dari sms2an formal lama2 ke pribadi, saling mention di tweet, menyapa di fb, tentunya antara ikhwan dan akhwat dengan dalih dakwah…

Apakah benar?

Wallahualam…Allah memang tahu apa niat kita namun menjaga sikap agar saudara kita juga tdk berprasangka dengan kita juga sebuah keharusan…

 

Iklan

Apakah memasuki dunia siyasy sebuah kekeliruan???

Akhir-akhir ini banyak aktivis kampus yang melontarkan keluhan yang hampir seragam. Keluhan ini datang dari berbagai lapisan aktivis baik da’awy ataupun siyasy. Mereka mengeluhkan bahwa sekarang terjadi penurunan kualitas kader akibat dampak sistemik dari dakwah siyasy.

“Coba kita lihat dahulu sewaktu dakwah hany ngurusin FSI saja kader-kader terpelihara, akhlaknya baik, hijabnya bagus, tidak ada yang menyimpang”. Ungkapan salah seorang aktivis yang sayang dengan dakwah ini.“kalau begitu sudah saatnya kita kembali ke asholah, kembali kedapur tinggalkan dakwah siyasy”. Begitulah rangkaian kata yang meloncat dengan penuh semangat dari kita sekali lagi yang sayang dengan jamaah ini. benarkah demikian?

Benarkah rutinitas siyasy yang menyebabkan kita kehilangan ciri ikhwani, benar kah dia makhluknya yang menjadikan dakwah ini bergeser dari asholahnya?

Lantas timbul pertanyaan bagi kita apakah tidak keliru kita memutuskan memasuki ranah siyasy?

Tahukah teman2 bahwa kedudukan medan siyasy merupakan bagian yang tak terpisahkan dari islam dan bergerak di medan siyasy adalah bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas dakwah ilallah..

Dakwah ini untuk seluruh alam, dia bukan untuk golongan tertentu saja, dia bukan hanya untuk orang-orang yang sdh mulai mengerti pentingnya islam dalam kehidupannya, tapi untuk semuanya tanpa terkecuali…

Mungkinkah kita melakukan perubahan yang besar ini hanya dengan optimalisasi satu wajihah yaitu FSI? yang notabene orang2 yang masuk disana adalah orang2 yang memang sdh punya hajat mengenal islam lebih dekat, maka bagaimana dengan teman2 kita yang masih mengambang, yang masih terlupa akan hakekat mereka diciptakan di dunia ini?

Sering misi2 besar dakwah siyasy ini kandas ketika ADK melihat personal siyasy yang berperan di lapangan yang dinilai tidak lagi menjaga asholah dakwah.

Apakah karena personal yang melakukan kekeliruan lantas kita menganggap keputusan memasuki ranah siyasy juga sebuah kekeliruan???

Agar kita tidak keliru ada beberapa hal yang harus kita lakukan

1. Tingkatkan imunitas pribadi kita.

Interaksi kita dengan orang2 yang belum mengerti hijab bukan lantas menjadikan kita juga berbuat hal yang sama. Interaksi kita dengan orang yang mungkin masih terlambat sholat jangan sampe menjadikan kita juga ikut2an telat. Dan interaksi kita dengan orang2 yang masih belum santun tutur katanya jangan malah menjadikan kita juga demikian. karena kita adalah kader yang punya imunitas. Kita berinteraksi tapi kita tidak tertulari. Bagaimana caranya, caranya adalah dengan memperkencang interaksi kita dengan Allah. Sehingga parameter2 yang telah Allah tetapkan bisa terus terpelihara. Kalau sebelum menjadi kader siyasy kita cuma tilawah 5 halaman sehari maka sekarang tambah menjadi 10 halaman, kalau sebelum disyasy Qiyamullail kita cuma satu kali perpekan maka sekarang jadikan ia minimal 3 kali perpekan…dan seterusnya untuk amalan yaumi yang lain

2. Pelihara budaya siap di kritik dan mau di kritik

Kita hanyalah manusia yang pasti tak luput dari kesalahan. Sewaktu2 ada kesalahan yang terlihat oleh rekan kita di lembaga lain yang mungkin kritikan dan masukannya akan lebih objektif maka dengarkanlah. Jangan langsung membentengi diri dengan pembenaran2 yang akan menyulitkan masuknya kritikan tadi. Kalau saat ini kita siap dikritik maka yakinlah sahabat kita yang memberikan kritik tadi akan semakin perhatian sama kita dan insyaALLAH semakin banyak yang perhatian terhadap gerak langkah kita maka kita akan menjadi kader yang terpelihara.

3.Pelihara tujuan

Senantiasa berusaha menanamkan dalam diri bahwa aktivitas kita disyasy untuk dakwah, Sehingga dalam aktivitas sehari-hari kita tidak akan terlepas dari rutinitas Da’i. Jangan sampe kita hanya sibuk dengan hal-hal teknis yang mengurus tenaga dan terkadang ukhuwah, tanpa sebuah misi dakwah yang pastinya akan membawa kekeringan pada pergerakan kita. Upgrade terus daya rangkul kita (isti’ab) karena tujuan dasar kita disini adalah dakwah

Wallahualam…semoga bermanfaat

 

Jenuh jadi Aktivis Dakwah

Berkutat dengan rutinitas yang  hampir sama dari hari kehari bisa menimbulkan kelelahan dan kemalasan untuk melakukan aktivitas dakwah.

Pergi pagi pulang petang untuk ngurusin orang lain ternyata bukanlah pekerjaan yang ringan dan mudah. Banyak kita yang akhirnya berfikir ulang dan tak sedikit yang kemudian memutar badan dan membalikkan pandangan dari jlan dakwah ini.

Terlebih lagi ketika aktivitas kita menjadi aktivis menuntut pengorbanan waktu, tenaga dan harta sampai2 mengorbankan waktu2 pribadi dan bahkan terkadang mengorbankan cita-cita semu.

Hati-hati kejenuhan ini penyakit menular, kita yang mulai merasakan bibit2 kejenuhan ini hendaknya tidak bersama mendekat orang-orang yang jenuh lainnya. Karena tradisi hidup jamaah kita yang melekat terkadang terbawa-bawa ketika kita jenuh dan akhirnya kita juga mengajak orang lain untuk jenuh.

Bagaimana supaya tidak jenuh

1. Luruskan kembali orientasi kita menjadi aktifis dakwah. Satu-satunya orientasi yang lurus adalah orientasi kerja semata karena ridho Allah. Jadi kita menjadi aktivis orientasinya adalah ilallah bukan semata2 pengembangan karir keorganisasian atau maaf sekedar pencapaian popularitas. Orientasi itu terlalul dangkal kiranya.

2. Berkumpul lah dengan orang-orang yang senantiasa punya semangat dalam aktivitas dakwah. Dimana hari-harinya adalah dakwah dan setiap tarikan nafasnya adalah dalam rangka zikrullah

3. Perbanyak bekal Ruhiyah karena inilah nadinya pergerakan kita. Kesibukan kita menjadi aktivis hendaknya berkorelasi dengan kesibukan kita berinteraksi dengan Allah. Kalau dulu sewaktu masih belum jadi aktivis Tilawah quran kita setengah juz sehari, sekarang tingkatkan menjadi satu juz. Kalau dulu kita cuma qiyamullail sekali seminggu sekarang tingkatkan jadi 3 kali seminggu. Hendaknya Interaksi Ruhiyah kita semakin diperketat.

4. Lakukan kreasi2 baru dalam menjalani amanah sebagai aktifis dakwah. Jangan biasakan diri melakukan rutinitas2 warisan secara literlet atau konseptual dan tidak menyesuaikan dengan kondisi analisa kekinian.

Banyak Hal lain yang bisa kita lakukan agar kita tak jenuh jadi aktivis, karena kejenuhan adalah awal malapetaka dan kejenuhan adalah indikasi lupanya kita akan janji kita kepada Allah untuk menjaga Dinul Islam ini..

Kalau kita mau lihat orang2 disekitar kita mereka juga punya hasrat pribadi, mereka juga punya targetan akademisi dan mereka juga punya cita2 tapi kenapa mereka masih sempat untuk menyibukkan diri dengan aktivitas organisasi. Karena mereka tahu hidup ini hanya sekali maka berbuatlah yang berarti

Semoga bermanfaat

Kita pemain bukan pengamat

Kita adalah orang yang ikut dalam sebuah permainan bukanlah orang yang hanya mengamati dari jauh kemudian berkomentar seolah-olah tahu bahkan lebih tahu dari orang yang sedang bermain

 

Ketika kita menonton sebuah pertandingan sepak bola tak jarang kita “galinggaman”(minang red) melihat para pemain yang kita nilai mainnya buruk, kemana bola kesitu dia pergi, ada peluang menggolkan eh ternyata tak pula masuk alias  tendangan meleset. Tak jarang keluar umpatan dari kita “bodoh” atau ah payah pemainnya. Seolah-olah kita lebih ahli dari pemain yang sdh bertahun2 ikut dalam pertandingan-pertandingan besar itu.

Tapi sedikit berbeda mungkin ketika komentar-komentar tadi lahir dari seorang komentator yang pernah jadi pemain sepak bola. Mereka akan berkomentar lebih intelek, pake analisa dan tidak asal menyalahkan dengan emosi.

Begitupulalah kita dalam aktivitas dakwah ini, mudah lontaran komentar keluar dari mulut kita ketika kita hanya jadi pengamat dan tidak pernah jadi pemain. Cenderung menyalahkan tanpa pernah memposisikan seandainya kita yang mengerjakan satu hal tersebut.

Hakikatnya kita adalah “muharrik”(orang yg senantiasa bergerak) bukan pengamat atau komentator saja.

Dalam perjalanan dakwah ini yang dibutuhkan adalah pemain dakwah bukan pengamat dakwah.

Yang dibutuhkan adalah orang yang senantiasa menghabiskan hari-harinya dalam kerja-kerja dakwah bukan orang yang menghabiskan harinya untuk mengkritisi kebijakan dakwah.

Menjadi komentator atau pengamat itu mudah apalagi kalau kita belum pernah mencoba bermain.wallahualam

Tetaplah bergerak walau harus menyeret langkah

sebagai salah satu sumber kehidupan yang menempati hampir 70 persen dari kebutuhan hidup kita ternyata juga bisa memberikan banyak pelajaran yang tersirat kepada kita tentang sebuah kehidupan.

Ketika teman-teman melihat air yang terus bergerak bagaimana kondisinya?

dengan geraknya itu ia bisa menjernihkan dirinya, dengan geraknya ia mencegah kontaminasi dari sampah dan hal-hal yang tak bermanfaat, dan dengan geraknya ia sampekan banyak manfaat ke berbagai tempat.

Tapi suatu saat ketika air itu memutuskan berhenti bergerak karena beratnya tantangan yang dihadapi dan sulitnya medan atau banyaknya penghalang disekelilingnya maka dengan seketika dia menjadi keruh, berlumpur dan lama-lama tak lagi dapat memberi manfaat kepada sekitarnya,

Begitupulalah ketika geraknya ini terlalu kencang, mungkin ketika dia bergerak kencang ia akan bersih, terhindar dari kontaminasi kotoran tapi sayang gerakannya membahayakan…

Begitupulalah kita sebagai pelaku dakwah hendaknya terus bergerak tanpa kenal lelah, teruslah mengalir mencari tempat yang baik dan teruslah melakukan proses pembersihan diri terutama hati sehingga kita kelak tetep bisa bertahan dalam hidayah Allah yang indah ini.

Teteplah bergerak biar sedikit demi sedikit tapi jangan pernah memutuskan untuk berhenti atau beristirahat dulu karena istirahatnya seorang muslim adalah ketika dia sudah bisa memastikan dia akan hidup nyaman di syurga.

Wallahualam, sekedar pengingat untuk diri sendiri

Wagub Sumbar Dukung Gubernur ke Jerman – nasional.inilah.com

Mudah2an bisa jadi jawaban bagi kita yang mungkin sedang bertanya2

 

Wagub Sumbar Dukung Gubernur ke Jerman – nasional.inilah.com.

 

Tetep semangat Ustadz, Mudah2an dikuatkan dalam memimpin umat ini

Yakinlah pertolongan Allah itu dekat Ustadz..

Apalagi pada orang-orang yang beriman.

 

ROHIS

memori rohis smu, …

menyesal ketika sekarang ana menyadari betapa indahnya ukhuwah yang terjalin disurau ini…

menyesal karena terlambat bergabung disini

Apa kabar hari ini para sahabatku sekalian?

berikut sedikit kutipan nasyid dr edcoustic:

sebuah kisah masa lalu hadir di benakku
saat kulihat surau itu
menyibak lembaran masa yang indah
bersama sahabatku

reff:
sepotong episode masa lalu aku
episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku

setiap sudut surau itu menyimpan kisah
kadang kurindu cerita yang
tak pernah hilang kenangan
bersama mencari cahayaMu

Terima kasih ya Allah atas nikmat hidayahMu ini..

Terimakasih engkau telah kenalkan aku dengan sahabat2 ku ini,

sahabat2 yang rela menghabiskan harinya untuk berdiskusi sehingga mengupgrade kefahamanku akan dakwah ini

Waktu yang singkat tapi memberikan kesan yang mendalam

Semoga Allah senantiasa memelihara kita dalam indahnya berukhuwah dan indahnya berjamaah.